MAKALAH
PSIKOLOGI AGAMA
” FUNGSI
PSIKOLOGI AGAMA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA “
Makalah ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah PSIKOLOGI AGAMA
Dengan Dosen H. Kusoy Anwaruddin,
S.Ag,M.Si
Oleh :
Ebin Sirojutolibin
11.T1.4174
STAI SYAMSUL ‘ULUM
GUNUNGPUYUH SUKABUMI
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
ucapkan kepada Allah Swt. atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “ Fungsi
Psikologi Agama Bagi Kehidupan Manusia “ dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam mata kuliah Psikologi Agama.
Harapan saya, semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan, karena
pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu, saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, hanya kepada Allah saya bersyukur
atas selesainya makalah ini sebagai tugas mata kuliah Psikologi Agama, dengan
dosen H. Kusoy Anwaruddin, S.Ag,M.Si.
Sukabumi 11 April 2014
Penulis
EBIN SIROJUTOLIBIN
NIM. 11.T1.4174
DAFTAR ISI
|
KATA PENGANTAR .....................................................................................................
|
i
|
|
DAFTAR ISI
......................................................................................................................
|
ii
|
|
BAB I
PENDAHULUAN .............................................................................................................
|
1
|
|
BAB II
PEMBAHASAN
................................................................................................................
|
2
|
|
1.Mengapa Psikologi Agama Perlu PAI .............................................................................
|
2
|
|
2. Psikologi Agama dan
Pendidikan ...................................................................................
|
3
|
|
BAB III
PENUTUP
...........................................................................................................................
|
11
|
|
KESIMPULAN
...................................................................................................................
|
11
|
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi,
kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh
manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut
agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang
mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon
pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap
orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama
tertanam dalam dirinya. Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah
laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. adanya perubahan
itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan
mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki
persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Mengapa Psikologi Agama Perlu PAI
Pengertian pendidikan PAI sendiri adalah
kegiatan atau usaha yang sadar atau pengertian sistematis dan berkesinambungan
untuk mengembangkan potensi agama manusia memberi sifat keislaman , serta
kecakapan sesuai dengan pendidikan. Manusia dengan berbagai potensi tersebut
membutuhkan suatu proses pendidikan, sehingga apa yang akan diembannya dapat
terwujud. H. M. Arifin, dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan
bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk mewujudkan manusia yang berkepribadian
muslim baik secara lahir maupun batin, mampu mengabdikan segala amal
perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, hakikat
cita-cita pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang beriman dan
berilmu pengetahuan, satu sama lain saling menunjang.
“Dengan adanya rasa agama seperti yang di
ketahui setiap manusia, maka akan timbul perasaan saling menghargai dengan
sesama individu lainya, sehingga akan timbul rasa saling toleransi kepada umat
manusia beragama, dengan adanya sifat tersebut manusia dapat menjaga diri pada
hal-hal yang di larang dan di anjurkan agama.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi
agama meneliti pengaruh agama terhadapsikap dan tingkah laku orang atau
mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir,
bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari
keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan
agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan
kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan
keyakinannnya.Mengapa manusia ada yang percaya Tuhan ada yang tidak , apakah
ketidak percayaan ini timbul akibat pemikiran yang ilmiah atau sekedar naluri
akibat terjangan cobaan hidup, dan pengalaman hidupnya.
Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya
dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala
kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. kedewasaan seseorang dalam beragama
biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena
menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam
hidupnya. Oleh kerana itu semua orang berkepentingan dengan Psikologi Agama dan
dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingannya masing-masing.
Bidang pendidikan anak misalnya, apabila si ibubapa ingin mendidik anaknya
agar kelak menjadi seorang yang taat beragama, berakhlaq terpuji, berguna bagi
masyarakat dan negaranya, dia dapat menggunakan pengetahuannya terhadap
Psikologi Agama, disamping mengetahui sekedarnya tentang perkembangan jiwa anak
pada umur tertentu dan perkembangan ciri remaja. Untuk itu dia dapat membaca
buku tentang psikologi anak dan psikologi remaja.
Bila para dakwah ingin mengajak umat hidup sesuai dengan ketentuan agama, taat melaksanakan agama dalam kehidupan mereka, maka dia dapat menggunakan Psikologi Agama dengan lebih dahulu mengatahui latar belakang kehidupan mereka, lalu menunjukkan betapa pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia.
Bila para dakwah ingin mengajak umat hidup sesuai dengan ketentuan agama, taat melaksanakan agama dalam kehidupan mereka, maka dia dapat menggunakan Psikologi Agama dengan lebih dahulu mengatahui latar belakang kehidupan mereka, lalu menunjukkan betapa pentingnya ajaran agama dalam kehidupan manusia.
Misalnya, manfaat iman bagi ketenteraman batin, manfaat solat, puasa, zakat
dan haji bagi penyembuhan jiwa yang gelisah (fungsi kuratif) dan bagaimana pula
manfaatnya bagi pencegahan gangguan jiwa (fungsi preventif) dan selanjutnya
pentingnya iman dan ibadah tersebut bagi pembinaan dan pengembangan kesihatan
jiwa (fungsi konstruktif). Psikologi Agama memberi gambaran tentang
perkembangan jiwa agama pada seseorang, menunjukkan pula bagaimana pembahasan
keyakinan (konversi) agama terjadi pada seseorang. Dan Psikologi Agama juga
menjelaskan betapa seseorang mencari agama dan benar-benar mencintainya dalam
bentuk mistik.
2. Psikologi Agama dan Pendidikan
A. Pengertian dan Ruang
Lingkup Psikologi Agama
Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (Jalaluddin, 1979: 77). Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata agama terdiri dari tidak, “gama”; pergi yang berarti tetap ditempat atau diwarisi turun menurun .
Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (Jalaluddin, 1979: 77). Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata agama terdiri dari tidak, “gama”; pergi yang berarti tetap ditempat atau diwarisi turun menurun .
Dari definisi tersebut, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan
beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama
itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu
juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta
faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Zakiyah darajat dikutip
oleh Jalaluddin, 2004: 15)
Berkaitan dengan ruang lingkup dari psikologi agama, maka ruang kajiannya adalah mencakup kesadaran agama yang berarti bagian/ segi agama yang hadir dalam pikiran, yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama, dan pengalaman agama berarti unsur perasaan dalam kesadaran beragama yakni perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah) dengan kata lain bahwa psikologi agama mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindakan agama orang itu dalam hidupnya. (Jalaluddin, 2004: 17). Dalam hal ini psikologi agama telah dimanfaatkan dalam berbagai ruang kehidupan, misalnya dalam bidang pendidikan, perusahaan, pengobatan, penyuluhan narapidana di LP dan pada bidang- bidang lainnya.
Berkaitan dengan ruang lingkup dari psikologi agama, maka ruang kajiannya adalah mencakup kesadaran agama yang berarti bagian/ segi agama yang hadir dalam pikiran, yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama, dan pengalaman agama berarti unsur perasaan dalam kesadaran beragama yakni perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah) dengan kata lain bahwa psikologi agama mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindakan agama orang itu dalam hidupnya. (Jalaluddin, 2004: 17). Dalam hal ini psikologi agama telah dimanfaatkan dalam berbagai ruang kehidupan, misalnya dalam bidang pendidikan, perusahaan, pengobatan, penyuluhan narapidana di LP dan pada bidang- bidang lainnya.
B. Pengertian dan Ruang Lingkup Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah setiap
sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan jasmani seseorang, akalnya
dan akhlaqnya, sejak dilahirkan hingga dia mati. Atau usaha sadar seorang
pendidik kepada peserta didik dalam melatih, mengajar berbagai ilmu pengetahuan
(Civic Education Society; 2002). Sedang menurut Aristoteles (Filosof terbesar
dari Yunani, guru Iskandar Makedoni, yang dilahirkan pada tahun 384 sebelum
Masehi) mengatakan bahwa: Pendidikan itu ialah menyiapkan akal untuk
pengajaran, sebagaimana disiapkan tanah tempat persemaian benih. Dia mengatakan
bahwa di dalam diri manusia itu ada dua kekuatan, yaitu pemikiran
kemanusiaannya dan syahwat hewaniyahnya. Pendidikan itu adalah alat (media)
yang dapat membantu kekuatan pertama untuk mengalahkan kekuatan yang kedua.2
Pendidikan ini juga diatur dalam syari’at Islam dalam surat Al-Qashas:77 yang artinya sebagai berikut:
“Carilah apa yang dianugerahkan oleh Allah padamu dari kebahagiaan akhirat dan jangan kamu melupakan bahagiamu dari kebahagiaan Dunia.”
Al-Qur’an menjamin kesuksesan bangsa mana pun yang menempuh cara/ jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an itu. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk melaksanakan pendidikan dan pengajaran itu: misalnya firman Allah, yang artinya:
Dan tentang dirimu apakah tidak memikirkannya? (Q.S. Adza-riyat: 21)
Pendidikan ini juga diatur dalam syari’at Islam dalam surat Al-Qashas:77 yang artinya sebagai berikut:
“Carilah apa yang dianugerahkan oleh Allah padamu dari kebahagiaan akhirat dan jangan kamu melupakan bahagiamu dari kebahagiaan Dunia.”
Al-Qur’an menjamin kesuksesan bangsa mana pun yang menempuh cara/ jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an itu. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menganjurkan untuk melaksanakan pendidikan dan pengajaran itu: misalnya firman Allah, yang artinya:
Dan tentang dirimu apakah tidak memikirkannya? (Q.S. Adza-riyat: 21)
C. Hubungan Psikologi
Agama dengan Dunia Pendidikan
Pandangan agama dan psikologi berjumpa pada diri manusia sendiri sebagai salahsatu fenomena ciptaan Tuhan dengan segala karakter kemanusiaannya. Begitu juga dengan pendidikan yang menjadikannya manusia sebagai objek sekaligus sebjek penentu dari suatu keberhasilan system pendidikan dan tujuan pendidikan secara umum.
Pandangan agama dan psikologi berjumpa pada diri manusia sendiri sebagai salahsatu fenomena ciptaan Tuhan dengan segala karakter kemanusiaannya. Begitu juga dengan pendidikan yang menjadikannya manusia sebagai objek sekaligus sebjek penentu dari suatu keberhasilan system pendidikan dan tujuan pendidikan secara umum.
Menurut Al Attas tujuan
pendidikan adalah menanamkan nilai-nilai kebaikan dan keadilan dalam diri
seseorang baik sebagai manusia atau individu. Dengan demikian yang perlu
ditekankan dalam pendidikan adalah nilai manusia sejati, sebagai warga negara
dalam kerajaannya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual. Dalam
menamkan nilai-nilai kebaikan khususnya nilai agama, seorang pendidik harus
memperhatikan perkembangan keberagamaan seseorang. Dalam hal yang berkaitan
dengan ketaatan dan kepatuhan dalam hal yang berkaitan dengan nilai-nilai
seseorang terhadap suatu system nilai termasuk nilai keagamaan, L Kohlberg,
secara teoristis mengemukakan bahwa seseorang dalam mengikuti tata nilai agar
menjadi insane kamil itu melalui tingkatan atau stadium, diantaranya adalah:
Stadium 1: Menurut aturan untuk menghindari hukum.
Stadium 2: Bersikap konformis (mengikuti nilai yang berlaku) untuk memperoleh hadiah agar dipandang sebagai orang baik.
Stadium 3: Bersikap konformis untuk menhindari celaan orang lain.
Stadium 4: Bersikap konformis untuk menghindari hukum yang diberikan agar beberapa tingkah laku tertentu dalam kehidupan bersama.
Stadium 5: Konformitas dilakukan karena membutuhkan kehidupan bersama yang diatur.
Stadium 6 : Melakukan konformitas tidak karena perintah atau norma dari luar, melainkan karena keyakinan sendiri untuk melakukannya.
Stadium 1: Menurut aturan untuk menghindari hukum.
Stadium 2: Bersikap konformis (mengikuti nilai yang berlaku) untuk memperoleh hadiah agar dipandang sebagai orang baik.
Stadium 3: Bersikap konformis untuk menhindari celaan orang lain.
Stadium 4: Bersikap konformis untuk menghindari hukum yang diberikan agar beberapa tingkah laku tertentu dalam kehidupan bersama.
Stadium 5: Konformitas dilakukan karena membutuhkan kehidupan bersama yang diatur.
Stadium 6 : Melakukan konformitas tidak karena perintah atau norma dari luar, melainkan karena keyakinan sendiri untuk melakukannya.
Pada saat menanamkan
nilai-nilai moral dan agama seorang pendidik harus memperhatikan 6 stadium
tersebut sebgai acuan dalam menentukan materi dan metode yang sesuai bagi
peserta didiknya. Hal ini bertujuan untuk membina sikap positif dalam
pembentukan pribadi anak dengan berbagai pengalaman keagamaan, sehingga ketika
dewasa mereka tak cenderung bersikap negatif kepada agama.
Seseorang pendidik juga
harus mempelajari dan memahami dinamika dan perkembangan moral, supaya dapat
memahami bagaimana peranan agama dala moral bagi anak didik. Pembinaan moral
terjadi melalui pengalaman-pengalaman dan pembiasaan yang diperoleh sejak
kecil. Kebiasaan itu tertanam berangsur sesuai dengan kecerdasan seseorang.
Dalam pembianaan moral agama memiliki peranan yang sangat penting, karena nilai
moral yang bersumber dari agama bersifat tetap dalam setiap dimensi waktu dan
tempat. Berbeda dengan nilai social kemasyarakatan yang bersifat relatif
tergantung dari kondisi masyarakat sekitar, dimana suatu perbuatan dianggap
baik atau sopan di suatu daerah namun di tempat lain pandangan itu dapat
berubah menjadi tidak baik atau tidak sopan.
Dengan demikian
nyatalah betapa pentinganya psikologi agama bagi duniawi pendidikan. Untuk
meraih kualitas insane paripurna, dalam dunia pendidikan dan psikologi
kontemporer banyak sekali dikembanghkan program pelatihan pengembangan diri
pribadi. Semuanya bertujuan untuk meningkatkan aspek psikososial yang positif
dan mengurangi aspek negatif. Dalam pelatihan yang bercorak psiko-educatif
diharapkan para peserta didik sadar diri, mampu beradaptasi, menemukan arti dan
tujuan hidupnya serta menyadari dan menghayati intensitas ibadah. Dengan
pelatihan semacam ini ungkapan “The man behind the system” ditingkatkan menjadi
“The spirit of the man behind the system” yang berarti adanya peningkatan
mental spiritual pada manusia penerap system.”
D. Urgensi Psikologi
Agama dalam Pendidikan (keluarga, Sekolah, dan Masyarakat).
Education (pendidikan)
dan jiwa keagamaaan sangat terkait, karena pendidikan tanpa agama ibaratnya
bagi manusia akan pincang. Sedang jiwa keagamaan yang tanpa melalui menegemant
pendidikan yang baik, maka juga akan percuma. Dengan kata lain, pendidikan
dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada
seseorang.
a. Pendidikan Keluarga
Perkembangan agama
menurut W.H. Clark, berjalin dengan unsur-unsur kejiwaan sehingga sulit untuk
diidentifikasikan secara jelas, karenaa masalah yang menyangkut kejiwaan,
manusia demikian rumit dan kompleksnya. Namun demikian, melalui fungsi-fungsi
jiwa yang masih sangat sederhana tersebut, agama terjalin dan terlibat
didalamnya. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini pulalah agama
itu bekembang (W.H. Clark, 1964: 4). Menurut Rosul Allah swt, fungsi dan peran
orang tua bahkan mampu untuk membentuk arah keyakinan anak-anak mereka. Menurut
beliau, setiap bayi yang dilahirkan sudah memiliki potensi untuk beragama,
namun bentuk keyakinan agama yang akan dianut anak sepenuhnya tergantung dari
bimbingan, pemeliharaan dan pengaruh kedua orang tua mereka.
b. Pendidikan
Kelembagaan
Pendidikan agama di
lembaga pendidikan bagaimanapun akan memberi pengaruh bagi pembentukan jiwa
keagamaan pada anak. Namun demikian, besar kecilnya pengaruh tersebut sangat
tergantung pada berbgai faktor yang dapat memotivasi nak untuk memahami
nilai-nilai agama. Sebab, pendidikan agama pada hakikatnya merupakan pendidikan
nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih dititik beratkan pada bagaimana
membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama. Fungsi sekolah dalam
kaitannya dengan pembentukan jiwa keagamaan pada anak, antara lain sebagai
pelanjut pendidikan agama di lingkungan keluarga atau membentuk jiwa keagamaan
pada diri anak yang tidak menerima pendidikan agama dalam keluarga. Dalam konteks
ini guru agama harus mampu mengubah sikap anak didiknya agar menerima
pendidikan agama yang diberikannya. Menurut Mc Guire, proses perubahan sikap
dari tidak menerima kesikap menerima berlangsung melalui tiga tahap perubahan
sikap. Proses:
- Pertama adalah adanya
perhatian; kedua, adanya pemahaman; dan ketiga, adanya penerimaa. Dengan
demikian, pengaruh kelembagaan pendidikan dalam pembentukan jiwa keagamaan pada
anak sangat tergantung dari kemampuan para pendidik untuk menimbulkan ketiga
proses itu. Pertama, pendidikan agama yang diberikan harus dapat menarik
perhatian peserta didik. Untuk menopang pencapaian itu, maka guru agama harus
dapat merencanakan materi, metode serta alat-alat bantu yang memungkinkan anak-anak
memberikan perhatiannya.
- Kedua, para guru
agama harus mampu memberikan pemahaman kepada anak didik tentang materi
pendidikan yang diberikannya. Pemahaman ini akan lebih mudah diserap jika
pendidikan agama yang diberikan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jadi,
tidak terbatas pada kegiatan yang bersifat hapalan semata. Ketiga; penerimaan
siswa terhadap materi pendidikan agama yang diberikan. Penerimaan ini sangat
tergantung dengan hubungan antara materi dengan kebutuhan dan nilai bagi
kehidupan anak didik. Dan sikap menerima tersebut pada garis besarnya banyak
ditentukan oleh sikap pendidk itu sendiri, antara lain memiliki keahlian dalam
bidang agama dan memiliki sifat-sifat yang sejalan dengan ajaran agama seperti
jujur dan dapat dipercaya. Kedua sikap ini akan sangat menentukan dalam
mengubah sikap para anak didik.
c. Pendidikan
Masyarakat
Masyarakat merupakan
lapangan pendidikan yang ketiga. Peran psikologi agama dalam lembaga ini adalah
memupuk jiwa keagamaan karenma masyarakat akan memberi dampak dalam pembentukan
pertumbuhan baik fidik maupub psikis. Yang mana pertumbuhan psikis akan
berlangsung seumur hidup. Sehingga sangat besarnya pengaruh masyarakat terhadap
pertumbuhan jiwa keagamaan sebagai bagian dari aspek kepribadian yang
terintegrasi dalam pertumbuhan psikis.
Hati yang bersih dan
sehat adalah cahaya yang seseorang pada langkah-langkah kehidupan yang benar,
dan yang memberikan rasa ketenangan dan kepuasan pada jiwa. Apabila kita
mendapat pendidikan dan kesadaran hati pada waktu kecil, artinya kita telah
menegakkan pilar-pilar pendidikan yang sangat kokoh. Berangkat dari sinilah,
kita wajib memberikan perhatian penuh untuk menghidupkan kontrol agama pada
jiwa seseorang dan kita jadikan hal itu sebagai sarana untuk menjaga
nilai-nilai akhlak yang ada padanya.
Umar bin Khattab r.a menyatakan “Barang siapa yang kebal dididik oleh syari’at, maka Allah pun enggan menaikkannya. Artinya jika kekuatan rasa beragama atau pengawasan jiwa, kontrol hati tidak ada pengaruhnya, maka peraturan atau undang-undang apapun yang ada dimuka bumi ini juga tidak akan ada pengaruhnya Hubungan psikologi agama dengan pendidikan adalah; kedua-duanya mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa amnesia yang normal, dewasa dan beradab. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia.
Umar bin Khattab r.a menyatakan “Barang siapa yang kebal dididik oleh syari’at, maka Allah pun enggan menaikkannya. Artinya jika kekuatan rasa beragama atau pengawasan jiwa, kontrol hati tidak ada pengaruhnya, maka peraturan atau undang-undang apapun yang ada dimuka bumi ini juga tidak akan ada pengaruhnya Hubungan psikologi agama dengan pendidikan adalah; kedua-duanya mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa amnesia yang normal, dewasa dan beradab. Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia.
Menurut Harun Nasution,
agama berasal darikata Al-Din yang berarti undang-undang/ hokum, religi (latin)
atau relege berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti
mengikat. Dan kata Agama terdiri dari kata akronim dari “a” ; tidak, “gam;”
pergi yang berarti tetap di tempat dan diwarisi turun menurun. Dari pengertian
tersebut dapat dirumuskan pengertian psikologi agama adalah; suatu ilmu yang
mempelajari kepercayaan jiwa manusia secara keseluruhan baik dari sisi jasmani
maupun rohani manusia.
Menurut Quraish Shihab,
tujuan pendidikan al Qur`an (Islam) adalah membina manusia secara pribadi dan
kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya,
guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Atau
dengan kata yang lebih singkat dan sering digunakan oleh al Qur`an, untuk
bertaqwa kepada-Nya. Dengan demikian pendidikan harus mampu membina,
mengarahkan dan melatih potensi jasmani, jiwa, akal dan fisik manusia seoptimal
mungkin agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
Pendidikan memang
mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia, oleh karena itu pendidikan
agama islam adalah sebuah upaya nyata yang akan mengantarkan umat islam kepada
perkembangan rasa agama. Umat islam akan lebih memahami dan terinternalisasi
esensi rasa agama itu sendiri. Pertama yaitu rasa bertuhan, rasa bertuhan ini
meliputi merasa ada sesuatu yang maha besar yang berkuasa atas dirinya dan alam
semesta, ada rasa ikatan dengan sesuatu tersebut, rasa dekat, rasa rindu, rasa
kagum dan lain-lain. Kedua yaitu rasa taat, rasa taat ini meliputi ada rasa
ingin mengarahkan diri pada kehendak-Nya dan ada rasa ingin mengikuti
aturan-aturan-Nya.
Pendidikan agama adalah
bentuk pendidikan nilai, karena itu maksimal dan tidaknya pendidikan agama
tergantung dari faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai agama.
Semakin suasana pendidikan agama membuat betah maka perkembangan jiwa keagamaan
akan dapat tumbuh dengan optimal. Jiwa keagamaan ini akan tumbuh bersama dengan
suasana lingkungan sekitarnya. Apabila jiwa keagamaan te;lah tumbuh maka akan
terbentuk sikap keagamaan yang termanifestasikan dalam kehidupan
sehari-harinya.
Menurut Prof. Dr.
Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan
tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena
cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat
dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi
pribadi
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya.
Belajar psikologi agama tidak untuk membuktikan agama mana yang paling benar, tapi hakekat agama dalam hubungan manusia dengan kejiwaannya , bagaimana prilaku dan kepribadiannya mencerminkan keyakinannnya.
Agama berasal dari kata
latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban.
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq. Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. Taules ; berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan megaplikasikanprinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan .
Remaja adalah cikal bakal calon pemimpin Negara, membentuk psikologi yang benar pada remaja telah di atur di dalam Islam sebagai agama yang satu-satunya Haq. Iman yang bersikap dinamis , kata iman menunjukan adanya kehangatan emosi dan mengandung keharusan-keharusan atau kewajiban-kewajiban sebagai akibat adanya keimanan. Taules ; berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan megaplikasikanprinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan .
Sedangkan menurut
Zakiah Darajat, psikologi agama adalah meneliti dan menelaah kehidupan beragama
pada seseorang yang mempelajari berapa besar pengaruh kenyakinan agama itu
dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di sampinga itu,
psikologi agama jua mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada
seseorang, serta faktor-faktor yang mem pengaruhi kenyakinan tersebut.
Sehubugan dengan
psikologi agama Jalaludin berpendapat bahwa Psikologi Agama menggunakan dua
kata yaitu Psikologi dan Agama, kedua kata ini memiliki pengertian yang
berbeda. Dimana Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajarigejala
jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradap.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Psikologi agama yang memepelajari rasa agama dan perkembangannya mempunyai
peranan yang saling korelatif dalam pendidikan agama islam. Pendidikan islam
sebagi sebuah upaya penyadaran terhadap umat islam akan lebih mudah diterima
oleh masyarakat. Pertumbuhan rasa agama akan semakin meningkat dan juga bisa
dihubungkan dengan kondisi di sekitarnya, baik sosial,ekonomi, politik hukum
dan sebagainya. Peran psikologi agama dalam pendidikan islam lebih memudahkan
pemahaman masyarakat dalam menelaah agama secara komprehensif. Agama tidak
dipandang hanya sebagi kebutuhan orang-orang tertentu, tapi agama memang
menjadi kebutuhan stiap pribadi seseorang yang menjadikan perkembangan pribadi
secara psikisnya. Proses penyadaran dan perubahan untuk meningkatkan nilai jiwa
keagamaan pun akan mudah di kembangkan. Perkembangan kejiwaan seseorang adalah
sebuah bentuk kewajaran dan pasti terjadi dalam diri seseorang. Oleh karena itu
pendidikan merupakan suatu keniscayaan dalam mengarahkan proses perkembangan
kejiwaan. Terlebih lagi dalam lembaga pendidikan islam, tentu akan mempengaruhi
bagi pembentukan jiwa keagamaan. Jiwa keagamaan ini perlu ditanamkan pada anak
sejak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
v
Rahmad, Jalaludin. 1996. Psikologi Agama.
(Edisi Revisi). Penerbit Putra Utama: Jakarta.
v
Rahmad, Jalaluddin. 2003. Psikologi Agama
(sebuah pengantar). Penerbit: Mizan media buku utama, Jakarta.
v
Abu Bakar, Muhammad. 1981. Pedoman Pendidikan dan
Pengajaran. Usaha Nasional: Surabaya.
v
Awwad, Jaudah Muhammad. 1995. Mendidik Anak
Secara Islam. Gema Insani Press: Jakarta.
v
Quraish Shihab. 1992. Membumikan al Qur`an
Bandung: Mizan,
v
Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2004
v
Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama,
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar